Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Friday, August 12, 2016

Dicari Kejujuran Seorang Penulis

Harıan Analisa, Kamis, 19 Mei 2016
Oleh: Anthony Limtan
[Foto Harian Analisa]
Pekan lalu, media sosial maupun kumunitas penulis Harian Analisa  di facebook ‘ramai’ memperbincangkan seorang penulis yang berstatus mahasiswa melakukan plagiat dalam beberapa tulisannya, termasuk di rubrik Opini. 

Penulis berinisial HKH, bisa dikatakan pemula dan rajin mengirimkan berbagai buah pikirannya, soal politik, ekonomi dan masalah sosial lainnya. Dan namanya juga sering mencuat di berbagai media terbitan lokal.

Namun, seperti pepatah mengatakan, sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga. Seperti itulah nasib HKH yang namanya sempat mencuat di jajaran kaum intelek kampus dalam menyuguhkan buah pikirannya, kini berakhir dengan  sumpah serapah.

Kejadian seperti ini bukan hal baru lagi yang terjadi di bidang akademis maupun non akademis. Dalam dunia akademis, penjiplakan karya tulis, seperti makalah dan skripsi sudah jamak dilakukan. Kurangnya kesadaran etika dalam mengutip suatu pendapat, sebagian atau seluruhnya menyebabkan terjadinya plagiarisme di kalangan mahasiswa.

Ketika seorang plagiat diklarifikasi redaksi soal keaslian tulisannya, masih saja bisa berdalih dengan mengatakan bahwa dia hanya mengutipnya dari tulisan tertentu. Tapi, jelasnya sering  terjadi mengambil hampir seluruh tulisan milik orang lain dan tanpa menyebut sumbernya.

Di Harian Analisa, redaksi mengoleksi sejumlah nama yang telah dibubuhi tinta hitam. Itu artinya, kejadian ini bukan hal baru yang muncul ke permukaan. Seperti pernah diberitakan dalam media, mereka yang pernah melakukan plagiat bukan hanya mahasiswa tapi juga sudah merambah ke berbagai profesi disiplin ilmu, khususnya dunia akademik, seperti dosen, dekan, maupun orang yang memiliki gelar terhormat Doktor.

Informasi Teknologi

Pemicunya adalah internet. Perkembangan informasi teknologi yang progresif semakin memudahkan seseorang untuk melakukan pembajakan dan tindakan plagiarisme. Hanya dengan melakukan copy paste tulisan orang lain, ubah judul, ubah sedikit kalimat dalam paragraf, jadilah itu tulisan miliknya.  

Mudah sekali bukan ? Tapi berkat perkembangan teknologi yang dapat menelusuri originalitas sebuah tulisan, dan ribuan bahkan jutaan masyarakat pembaca sebagai juri, hal ini seharusnya membuat para plagiat berpikir ulang melakukan perbuatan tercela itu.

Berbagai masukan disampaikan pembaca ke redaksi, ada yang mengatakan, Analisa kecolongan sampai membiarkan seorang plagiat berkarya. Masukan yang lain, mengatakan, sebaiknya tulisan yang akan dimuat diuji dulu melalui sebuah website yang dapat memeriksa keaslian sebuah tulisan.

Kami sampaikan terima kasih atas semua masukan yang diberikan, tujuannya untuk mencegah terjadinya plagiarisme. Namun, kami sampaikan, bukan kami tidak tegas dalam hal plagiarisme bila tidak melakukan pengecekan kembali untuk setiap tulisan yang akan dimuat. Terlalu banyak hal yang lebih penting yang dapat kami kerjakan di meja redaksi daripada harus mencek satu persatu persatu keaslian sebuah tulisan. Ibarat belanja di super market, pengelola membiarkan pembeli mengambil sendiri  produk yang diinginkan tanpa harus dikuntit, diawasi agar tidak terjadi pencurian.

Namun bila konsumen kedapatan mencuri, tentu hukuman moralnya jauh lebih berat daripada sekadar mendapat sanksi fisik. 

Demikian juga plagiarisme. Bila selama ini nama seseorang itu begitu dikagumi karena buah pikiran yang dituangkan dalam tulisan begitu menarik perhatian. Namun ternyata tulisan itu adalah hasil plagiat, saya kira hukuman blacklist bagi penulis itu adalah hal biasa. Namun hal yang mampu meruntuhkan martabat seseorang itu justru hukuman sosial dari komunitas penulis, pembaca, lingkungan akademik. Kata orang, sanksinya biasalah itu, tapi malunya ini mau letak dimana?

Kesempatan seluas-luasnya yang diberikan Analisa untuk penulis pemula untuk menuangkan buah pikirnya, menjadi kado intimewa. Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Bukan karena Harian ini kekurangan narasumber sehingga peluang ini diberikan juga kepada mahasiswa.Bukan!

Bisa saja Analisa membuat seleksi ketat seperti koran ternama nasional terbitan Jakarta hanya memberikan kesempatan pada para pakar berbagai disiplin ilmu, semisal dosen, praktisi hukum, pelaku bisnis dan berbabai strata profesi. Namun, terus terang, bila kebijakan ini kami terapkan, penulis pemula atau juga identik dengan mahasiswa akan kehilangan kesempatan belajar menjadi penulis handal.

Harian Analisa berkomitmen memberikan kesempatan itu bagi pemula tanpa mengedepankan status sosial yang dimiliki. Siapapun boleh berpendapat selagi apa yang dituliskan itu bermanfaat bagi banyak orang. Tentu redaksi memiliki kriteria tulisan yang diinginkan, semisal yang lagi hangat dibicarakan (up date).

Namun terlepas dari semua itu, hal yang paling penting adalah kejujuran diri seorang penulis. Kejujuran merupakan dasar untuk menegakkan kebenaran, termasuk menegakkan dan membangun kebenaran ilmiah.

Suatu kejujuran yang hakiki hanya diketahui secara pasti oleh dirinya sendiri, sedangkan orang lain hanya bisa mengetahui ekpresi dari kejujuran itu. Saya yakin, di antara kita pasti ada yang pernah melalukan plagiat, tapi karena takut akan Tuhan, masyarakat pembaca, hati nurani, maka perbuatan tercela itu tidak berlanjut.

Redaksi Analisa memberikan sanksi atas perbuatan plagiarisme, berupa mem-blacklist nama tersebut. Oleh karenanya, para penulis mari berani jujur pada diri sendiri. Jika karya Anda yang selama ini dikagumi pembaca namun pada akhirnya terkuak bahwasanya semua itu adalah palsu, tentu kekaguman itu akhirnya berbuah sumpah serapah.

Jika demikian, masihkah Anda mau melakukan plagiarisme?***


Menyingkap Plagiasi Tulisan di Koran

Harıan Analisa, Kamis, 19 Mei 2016
Oleh: Junaidi Khab

Pada tanggal 8 Mei 2016 bagi dunia literasi mungkin harus menjadi cambukan kembali atas kasus plagiasi oleh salah seorang penulis. Sebenarnya, hal ini bukan isu aktual. Kasus plagiasi sudah pernah terjadi jauh hari sebelumnya. Misalkan di koran nasional Kompas oleh salah satu dosen Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta pada 2014. 

Namun, dengan bijak dosen UGM tersebut mengakui dan melakukan pengunduran dari status dosen UGM, karena hal itu mencoreng almamater. Kasus ini mungkin tidak menjadi jeweran bagi penulis lain. Sehingga, masih tetap ada penulis yang melakukan hal serupa di media massa.

Kejadian plagiasi kini terulang kembali di koran Harian Analisa Medan. Penulis dengan inisial HKH diklaim melakukan plagiasi tulisan milik Bernando J. Sujibto dengan judul “Perkara Prosa di Turki” dengan judul yang tak jauh berbeda. Bernando merupakan penulis asal Sumenep yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana di Selcuk University, Konya Turki. Sementara HKH merupakan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang katanya ia mahasiswa sastra. Namun, tulisan yang dimuat di Harian Analisa pada Minggu, 8 Mei 2016 di dalamnya mengandung unsur plagiasi.
[Dari Situs Analisa]

Tulisan Bernando ini kali pertama tayang di media online kawakan basabasi.co Yogyakarta, pada 17 Maret 2016. Kemudian diposting secara pribadi di www.turkishspirits.org. Husnul dengan telaten menambal dan mengukir kalimat-kalimat asli dari tulisan Bernando. Judulnya cuma diganti satu kata, “Perkara” diubah menjadi “Masalah” dengan mengurai beberapa paragraf sebagai bumbu. Memang sedap dan enak untuk dinikmati oleh para pembaca. Namun, sebenarnya itu makanan milik orang lain yang diolah, lalu dimakan oleh publik tanpa mendapat ijin dari pemiliknya. Secara kaidah hukum Islam, publik telah menikmati hasil racikan hidangan otak yang haram.

Melihat kasus semacam ini memang sangat memalukan. Seseorang yang (dianggap) sudah dipercaya oleh media ternyata melakukan plagiasi. Terlebih menggunakan status perguruan tinggi yang tentunya bisa mencoreng almamaternya. Memang, ini kita akui sebagai kejahatan intelektual yang sulit dijangkau hukum negara. Tak ada undang-udang yang melindungi suatu karya tulis dengan sempurna, hanya setengah-setengah perlindungannya. Padahal, plagiasi merupakan kejahatan intelektual, yang secara tidak langsung membunuh peradaban yang telah kita bangun dengan baik melalui ilmu pengetahuan.

Namun, keuntungan masih berpihak pada HKH dengan mengikuti permintaan dari Bernando agar mengakui dan meminta maaf kepada publik. Hal itu dilakukan oleh HKH di dinding akun facebook Bernando dengan berterusterang bahwa ia telah melakukan plagiasi atas tulisan Bernando di basabasi.co. 
[Tulisan di Basabasi.co]

Dengan tangan terbuka, Bernando pun memberikan maaf dengan memberi peringatan kepada publik agar pelaku plagiasi yang meminta maaf jangan sampai dijauhi, tapi Bernando meminta agar menjauhi virus plagiasinya saja agar tidak menjangkit penulis-penulis yang lain. Sungguh mulia. Namun, entah pemberian maaf dari Harian Analisa, basabasi.co, universitas tempat HKH menempuh studi, dan pihak terkait lainnya. Hal itu ada dalam kebijakannya masing-masing untuk menyikapi kasus ini.

Bukan Salah Media

Melihat kasus plagiasi tulisan yang terbit di media (koran) dan lainnya, dalam hal ini masih ada dua pandangan. Pertama, publik mungkin akan memandang bahwa pihak yang bersalah itu penulis yang melakukan plagiasi. Kedua, pihak media yang telah ceroboh menerbitkan suatu tulisan tanpa melihat aspek-aspek tulisannya. Namun, publik tentunya sudah tahu dan cerdas untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Terlebih untuk menyalahkan publik memang sangat cerdas.

Dalam hal ini, saya menegaskan bahwa media (koran) yang memuat tulisan dari hasil plagiasi tidak serta-merta bisa disalahkan. Hal itu dengan alasan bahwa setiap media yang berupa koran atau lainnya sebelumnya tentu memberi ketentuan tentang tulisan yang boleh dikirim untuk dimuat. 

Salah satunya yang perlu diperhatikan yaitu tulisan harus asli, bukan hasil jiplakan atau plagiasi. Jika suatu hari ada tulisan yang dimuat, dan tulisan itu merupakan dari hasil plagiasi, pihak media tentu memiliki kebijakan tersendiri sebagai aturan yang ditentukan secara internal.

Mengingat kejadian kasus plagiasi tulisan yang masih terjadi di republik ini, media harus melakukan penyaringan secara ketat untuk menerbitkan suatu karya yang dikirim oleh publik. Memang, usaha ini sangat sulit dan tidak mungkin dilakukan karena pihak redaktur tentunya tidak hanya menerima satu atau dua tulisan di dapur redaksi. Ada banyak tulisan yang harus dipilah dan dipilih untuk menjadi konsumsi publik. 
[Tulisan Plagiat versi Harian Analisa]
Namun, jika ada usaha yang dilakukan oleh redaktur media, kemungkinan besar kasus plagiasi di negeri ini sedikit-banyak bisa dikendalikan dengan segera memberikan peringatan dan sanksi kepada pelaku plagiasi. Usaha ini bukan serta-merta untuk mematikan kreatifitas para penulis yang melakukan plagiasi, tapi sebagai pelajaran kita semua.

Maka dari itu, menjadi seorang penulis harus benar-benar profesional dengan menggunakan daya kreatifitas sebaik dan semaksimal mungkin. Melakukan plagiasi hanya akan menanam benih-benih kejahatan dan malu kepada publik. 

Selain itu, juga bisa membunuh secara mental jika plagiasi yang dilakukan diketahui publik. Ia bisa merasa terkucilkan dari lingkungannya. Mari, jadi penulis yang benar-benar kreatif dengan menuliskan ide-gagasan inspiratif yang ada di otak kita! ***

Penulis adalah Akademisi, lulusan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Alumnus #Kampus Fiksi DIVA Press 2016


Saturday, April 09, 2016

Tujuh Cerita di Taman Tulip

Pesona Tulip di Alladdin Tepesi, Konya
/1/
Kita tengah memburu aroma keindahan, handai
taman bunga yang tumbuh di tanah redam badai
kenangan lusuh dan kecemasan yang mengintai 
di pundak kita merayap, menyusun sunyi sendiri
tapi lupa aku bagaimana cara tersenyum, handai
di tengah pesona yang kau bawa dari seberang
di tengah aroma yang dipanjat dari tebing Toros
di tengah gelak tawa yang dititipkan di saku celana
para pengungsi
di tengah taman tulip...

/2/
Ke tengah-tengah taman kita datang dengan segala warna
masing-masing, dari lorong rahasia bernama masa lalu
ia yang disembunyikan selalu bercerita lebih jujur, bukan?
pengap sengketa dan kehendak-kehendak yang runtuh
menikmati buah takdir pada setiap ruas warna
hitam legam atau putih bercahaya, kuning atau merah
tetapi di langit, kenapa warna tak pernah berubah? 
Bisik seseorang yang sekali-kali menatap langit

/3/
Di mata seorang pemuda perang terus berkobar
kuncup tulip adalah selongsong peluru yang menembus
dada sanak saudaranya. Ia merapal doa dan sungging naas
pada wajahnya yang menatap tanah kelahiran di selatan
suriah, nama kenangan keindahan yang teramat getas
jadi taman air mata dan darah. Ia tidak pernah lupa
lambaian ayahnya mengiringi mereka pergi mengungsi

/4/
Di mata seorang kakek warna-warni tulip adalah sekantong doa
tersimpan di sudut jiwanya. Dia mamanjatkannya untuk langit
siapa tahu langit menampung warna pelangi dari lapisan tulip
anak-cucunya terbang menjadi bidadari dan tak pernah mendengar
cerita-cerita maha luka dan pekik tangis kepala dihantam timah
di langit tumbuh tulip yang akarnya dibasuh hujan pagi hari

/5/
Di mata seorang gadis aroma tulip adalah sisa kecupan pacarnya
parfum pada kerah bajunya selalu ia ingat sebagai riwayat terakhir
untuk sebuah pengkhianatan, sebelum ia diperkosa demi bukti cinta
demi lelaki bertubuh singa sebelum ia pergi menyisakan gempita
di celah celana dalamnya

/6/
Di mata lelaki tambun tulip adalah luka
setumpuk puja-puji demi menjaga kemegahan
di atas jerit tangis. “Jangan pernah tersenyum
di balik kecantikan bunga ini. Di tanah Anatolia
aku melihat ribuan rakyat kelaparan saat tulip
tumbuh dan ditanam di tubuh kami. Ini kebesaran
bagi orang-orang tuli dan buta!” Ia lalu menjauh
meninggalkanku

/7/
Di mataku, mata yang kupinjam dari keramaian,
tulip adalah maha pesona, privilege tanpa batas
menghimpitku dalam aroma nyeri yang tragis!


Turki, 2014-2015

Catatan:
The Tulip Period (Tulip Era) atau: Lâle Devri (July 1718-September 1730) adalah periode penting dalam sejarah Ottoman, di mana tulip menjadi simbol bagi kepongahan para pembesar Ottoman!


Wednesday, March 23, 2016

Di Balik Turkish Spirits

It's never too late to start over! Ya, kalimat ini yang terngiang di kepala waktu saya terpikir untuk star-up media berbasis online yang kelak kami kasi nama Turkish Spirits (TS). Sebenarnya saya tidak ingin ada huruf ‘s’ pada kata spirit, tapi karena ditolak Google oleh sebab sudah ada akun serupa, akhirnya dengan rela hati menerima nama Turkish Spirits dengan ‘s’.

Nama Turkish Spirit jelas penuh risiko, dan saya siap menjelaskannya. Misalnya, orang-orang yang detail tahu Turki dan jenis minuman khususnya, mendengar nama ini akan langsung mengarah kepada minuman arak tradisional khas Turki sendiri, yaitu rakı. Tagline rakı  memang Turkish spirit. Coba saja googling, entri pertama di google yang muncul dijamin rakı.

Tapi, bagi mereka yang jauh lebih detail tahu Turki—daripada sekedar menikmati hal-ihwal artifisalnya—saya yakin implikasi nama ini akan memuncratkan makna yang kompleks dan saya rasa semakin komprehensif. Karena Turkish Spirit sendiri adalah judul dari sebuah proyek besar novel yang tak selesai, dan naskah ini terus diperbincangkan hingga detik ini.

Nama Turkish Spirit saya ambil dari judul novel yang tak selesai tadi—penulisnya meninggal duluan sebelum merampungkannya. Novel itu ditulis oleh novelis besar Turki Oğuz Atay dengan judul Türkiye'nin Ruhu. Nah, berangkat dari ide dan proyek besar yang tak selesai itu, saya berpikir untuk sekedar memberikan warna—atau lebih tepatnya mengapresiasi judul itu—ke dalam media penerbitan website ini.

Di sela-sela lelah mengerjakan tesis, saya kemudian memulai situs ini yang awalnya dari blogspot, mengontak teman-teman dekat terlebih dadulu: Hari Pebriantok, Abdul Ghaffar dan Labib Syauqi (mereka semua pelajar dan juga alumni Turki). Lalu saya menghubungi Naelil Maghfiroh (Izmir) dan Durrotul Mas’udah (Kocaeli) untuk saya minta pandangan, masukan dan partisipasi mereka untuk media yang diniatkan untuk media penerbitan kolektif pelajar-pelajar Indonesia di Turki.

Seiring waktu, karena ternyata TS banyak diminati dan interaksi/korespondensi cukup padat, saya berpikir serius untuk membicarakan penerbitan online ini ke depan. Kemudian saya hubungi Roida Hasna Afrilita (Canakkale), Naufal Ubaidillah (Izmir), Kaharuddin Ali (Konya), Didit Haryadi (Istanbul) dan Azahra Nurhabiba (Zonguldak) dan Hadza Min Fadhli R (Eskisehir).

Kenapa harus star-up TS? Secara umum, saya tergerak untuk mewujudkan TS ini karena alasan-alasan berikut:
  • Setelah mendapati banyak foto dan berita hoax tentang Turki baik yang dimuat di media sosial atau di media-media online;
  • Sebagai pelajar ilmu sosial, saya berpikir bahwa kepekaan observasi terhadap fenomena sosial secara umum, rangsangan untuk mencermati dan kemudian sampai pada proyeksi penelitian adalah jalan tunggal ilmuwan sosial. Jadi awalnya saya ingin menyediakan wadah bersama berupa penerbitan online di mana teman-teman pelajar dari jurusan ilmu-ilmu sosial (khususnya dari S1) bisa menulis asyik dengan topik khas dan unik (hasil observasi mereka). Apalagi Turki adalah laboratorium yang superkaya, khususnya bagi pelajar yang mendalami isu konflik dan kekerasan;
  • Melihat banyak karya tulis berbasis blog dari pelajar-pelajar Indonesia di Turki yang bermanfaat dan perlu disatukan yang nanti diharapkan menjadi pusat dokumentasi dan informasi sekaligus tentang Turki;
  • Sebagai proyeksi media bagi para pelajar yang akan menerjemahkan karya Turki ke Indonesia atau sebaliknya.
Tagline TS
“Melenturkan yang kaku, menghadirkan Turki lebih seru.”

Apa Tujuan TS
Karena yang dikenal Indonesia tentang Turki sejauh ini rata-rata isu seputar ‘politik, agama, kekerasab/konflik dan baru-baru mulai hadir film/drama’, TS ingin melengkapi dan menghadirkan Turki lebih lengkap: mengkaver hal-hal yang unik, seru, out of the box dan tentu bermanfaat. Tentu anti hoax! Jadi, distorsi tentang Turki harus menjadi perhatian kita. Nah, TS ada di ranah itu. 

Secara gamblang, TS ingin:  
  • Menampung karya tulis para pelajar Indonesia di Turki;
  • Berbagi informasi/berita hal-ihwal Turki (budaya, studi, ekonomi) dengan menerjemahkan portal berita dari Turki;
  • Menerjemahkan karya-karya penulis Turki yang tak mainstream tapi perlu (misalnya puisi dan cerita-cerita pendek);  
  • Menyebarkan semua tulisan hal ihwal Turki yang positif dan kontributif.

Salam,


Bernando J. Sujibto

Wednesday, February 03, 2016

Betapa Dahsyatnya PPI Turki

.....sebuah cerita kerinduan

Di PPI Turki saya adalah orang luar, serupa seorang eksil. Kalimat wujuduhu ka adamihi mungkin sangat tepat untuk menggambarkan di mana posisi saya di organisasi untuk pelajar terbesar ini. Namun demikian, saya punya cerita tentang dahsyatnya PPI Turki.

Tepat di hari-hari kampanye calon ketua PPI Turki 2014, yang saat itu muncul dua calon (yaitu Arya Sandhiyuda dan satunya lagi Aditya Sasongko), sekitar akhir tahun 2013—hanya beberapa bulan saya tinggal di Turki—saya membuat sebuah pernyataan “menggelikan” bagi sebagian dan mungkin membahagiakan bagi sebagian yang lain.

“Arya, satu suara untukmu,” tulis saya di dinding Facebook grup PPI Turki.

Sebagian teman banyak mempertanyakan pernyataan di atas. Tak banyak neko-neko. Saya hanya ingin memastikan sejauh mana organisasi “mahasiswa di luar negeri ini” memosisikan diri di tengah dinamika intelektual dan diskursus kritis. Sejak awal saya tahu identitas Arya dari mana; saya juga sudah kenyang dengan pengalaman organisasi (pengkaderan dan perebutan massa) mahasiswa ala Indonesia. Apakah organisasi “mahasiswa di luar negeri” ini juga ikut cawe-cawe dengan urusan begini, atau ia mampu berdiri sebagai organisasi mini Indonesia?

Dan sekitar beberapa minggu setelah Arya terpilih jadi ketua PPI Turki, saya dihubungi oleh Arya melalui message Facebook agar bersedia terlibat dalam kepengurusannya. Tapi saya menolak dengan alasan ada banyak teman-teman lain yang butuh belajar dan terlibat dalam organisasi PPI.

Saya mungkin hanya seorang yang sentimentil, mengingat bahwa lembaga serupa ini pernah menjadi lokus untuk memperdebatkan kemerdekaan kita menjadi INDONESIA. Mohammad Hatta mendirikan Indonesisch Vereniging (Perhimpoenan Indonesia), sebuah organisasi yang menjadi cikal bakal Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang didirikan Raden Tumenggung Djaksodipoera tahun 1926 di Belanda. Mereka sengit membicarakan ruh kemerdekaan demi menjadi Indonesia dengan ribuan pulau dan bangsa-bangsa itu.

Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini. Cikal-bakal pengkaderan yang dikomandoi oleh Arya, ketua PPI yang saya pilih itu, bermula—di mana PPI Turki menjadi media perebutan massa (yang pada akhirnya) merebahkan diri dan penuh aroma politik. Karena Arya adalah seorang kader politik militan PKS.

Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini. Ada seorang teman seangkatan saya (sama-sama mendapatkan beasiswa YTB) bernama Fauzi Ahmad, salah satu didikan terbaik Arya dan teman-temannya. Menurut statuta dan skema beasiswa YTB, angkatan saya yang studi master hanya berdurasi 3 tahun (1 tahun belajar bahasa Turki dan 2 tahun studi formal). Tetapi Fauzi berani mencalonkan diri sebagai ketua PPI Turki dengan masa jabatan 1 tahun ke depan. Dan kasus ini membuat saya terperangah. Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini. Karena yang saya tahu penerima beasiswa Turki atau pelajar di Turki tujuan pertama adalah belajar (menyelesaikan studi) sebaik mungkin. Tetapi, Saudara Fauzi mempunyai semangat berbeda. Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini!

Misalnya, kalau Saudara Fauzi beasiswanya diputus oleh YTB (karena sudah lewat masa studi), berarti dia harus menanggung sendiri semua biaya baik di kampus ataupun living cost. Dalam konteks ini, saya sungguh salut, betapa hebatnya pengabdian Fauzi kepada PPI Turki (jika nanti terpilih). Atau dia sudah ditugaskan secara khusus oleh majelis internal kelompoknya? Allah bilir…

Di samping Saudara Fauzi, dua calon yang lain adalah Herry Cahyadi dan Azwir Nazar. Dua calon ini masih punya waktu panjang untuk studi di Turki.

Herry datang jauh-jauh dari Istanbul ke Konya untuk kampanye. Sebuah usaha yang luar biasa. Tetapi sayangnya, yang katanya sok sibuk, Herry datang ke Konya dari İstanbul tanpa sempat ziarah ke makam Rumi. Sebuah pengalaman yang istimewa dan unik di telinga saya. Ini menjadi pengalaman pertama yang saya dengar dari seorang pelajar Indonesia dan muslim. Saya tidak tahu apa alasannya. Apakah kebesaran nama dan kealiman seorang Rumi dan ayahnya—yang dijuluki sebagai sulthanul ulama dan sekaligus menjadi qadi kesultanan Saljuk Anatolia—itu tidak cukup mengetuk hati para generasi muda Muslim seperti kita hari ini?

Untuk Azwir, mohon maaf kita belum berjodoh jumpa di Konya….

Sunday, December 27, 2015

2015: Tiga Ihwal Simbol (atawa Peristiwa) Keagamaan

Satu, ketika menghantar beberapa kawan dari Indonesia yang sedang liburan di Turki terjadi perdebatan dan komplain di lobi motel. Karena ada kekeliruan malam itu rombongan kami tidak mendapatkan kamar. Ketika nada suara di antara kami mulai menghentak tinggi, si penerima tamu motel, "kamu berjilbab dan saya menghormatinya. Tidak perlu dengan suara tinggi seperti itu," berujar dengan sedikit menundukkan kepada dan meletakkan tangan kanannya di dadanya (tanda hormat dalam kultur Turki).
Dua, seorang temannya temanku masuk kamar. Dengan beragam kalimat sumpah serapah (swear words)--dalam keseharian pemuda Turki, Anda akan sangat-sangat mudah menemukan kata-kata kasar menyertai obrolan mereka--ia menunggu temanku yang tengah bersiap-siap. Ketika hendak keluar kamar dan melihat Al-Qur'an yang saya taru di atas lemari, sontak dia berujar "astaghfirullah, taubat ya."

Tiga, larut malam di rumah teman. Kami sedang tidak mengantuk. Dua temanku menyalakan laptop dan membuka salah satu situs live porno. Malam itu satu teman lagi tidak sedang ingin menontonya. Dia minta situs itu ditutup. Karena tidak direpon, dia langsung menyetel lagu religius tepat di sampingnya. Sontak kedua temanku ngomel-ngomel dan menutup jendela situs tadi. Mereka minta lagu itu dimatikan! 

Ini tentu saja hanya kasus-kasus kecil, atau dalam penelitian ilmu sosial disebut sebagai small-case crossword clue. Yang menarik, kejadian ini mengaburkan pikiran saya tentang proyek modernisme dan segenap mitosnya di Turki. Apakah taring rasionalisme yang diusung dari Eropa sudah menancap di kepala bangsanya? Bagi Turki, saya merasa bahwa semua itu adalah sejumput jargon yang tumbuh liar di mana-mana--tanpa akar yang kuat dan pupuk yang cukup--khususnya di halaman para 
borjuis (karena proyek ini dilakoni dan dihembuskan dari ranah elit politik dan kelompok "bangsawan"), tetapi secara partikuler belum (atau sulit) menciptakan akulturasi. Dus, hal-hal partikuler dari interaksi sosial masyarakat tumbuh lepas di luar rencana dan harapan mereka.

Artinya, di lubuk paling dalam hati mereka--yang dibentuk oleh budaya dan tradisi ratusan tahun--ada ruang yang didekasikan untuk melawan, atau setidaknya menjaga struktur kesadaran yang telah terbentuk dari proyek kebaruan-kebaruan yang dirancang mendadak, atau bahkan kasar! Atau, dan itu pasti, ada sesuatu yang lain dan butuh ditelusuri lebih dalam...

Akhirnya, saya berpikir bahwa bentuk-bentuk konservatisme pada setiap orang--apakah sebagai warna kultur atau hanya perilaku personal--adalah justifikasi tentang yang-berjarak-dan-tak-tersentuh dan juga adanya batas-batas dalam setiap diri.

Friday, December 18, 2015

Menunggu Matahari Pulang di Hierapolis

aku sendiri
menunggu matahari pulang di hierapolis
di sebuah kolam mata air teriris bagai kapas
dari atas bukit sebuah kastil menyala cemas

bulan tak sedang indah
pucat di tebing batu-batu kapur

malam ini aku tersesat di jalan pulang
kembali atau pergi adalah bisikan jalang
menyaksikan kaki para peziarah
saling menghapus
timbul dan tenggelam
di jalan-jalan
pandangku rabun

dari dekat, di antara percik air
batu-batu menyala
derap pasukan perang berkuda
menyambut malam yang jatuh
sebagai anak jadah

bulan tak sedang indah
menyusut di sudut altar

di permukaan taman yang putih
aku menyaksikan peri-peri menari
menggandeng tangan para permaisuri
gemerincing air berseri-seri
ini malam sebuah pesta untuk sengketa
prosesi menyambut para pemenang
atau mengenang yang pernah mengisi
linimasa peradaban di labirin berkapur ini

dari atas bukit genderang ditabuh bertalu-talu
pasukan perang, kuda-kuda terbaik disiapkan
ke medan pertempuran, ke tengah sunyi yang raib
para rahib berdoa di biara dan menunggu
bulan yang tak sedang indah
menemui tuhannya

malam makin nyalang
pesta lamat-lamat hilang
aku melangkah
jejak-jejak dari ribuan tahun
tiba-tiba menyala di belakangku
aku akan pergi menuju pesta
atau sengketa yang lain
di jalan-jalan berlumpur, tanpa kastil
di mana sejarah terus saling menampar


Turki, 2015